oleh
Berly Martawardaya
Akhir tahun 2005 sudah menjelang…
Tak terasa sudah lebih dari dua tahun aku terdampar di Eropa dan sepuluh tahun sejak pertama memasuki kampus UI Depok sebagai mahasiswa FEUI. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak menyanyikan lagu-lagu masa orientasi yang harus dihapal kalau tidak ingin di “sapa” para tibum nan galak.
Salah satu lagu itu berjudul “Solidarity Forever” dengan lirik yang sangat sederhana. Waktu itu yang terpikir bahwa ini hanyalah upaya menanamkan nasionalisme fakultas untuk anak baru.Namun setelah sekian lama sepertinya lagu itu (bukan lagu lain yang liriknya “lulus 4 tahun...”) yang paling banyak hikmah dan kebenarannya.
Bagaimana tidak? Setiap perjalananku selama ini selalu berjumpa dengan solidaritas FEUI. Dimulai dari fellowship ke NUS
Namun di Eropa inilah terasa benar solidaritas FEUI.
Ketika ketua jurusan ESP datang ke
Pertemuan di tram dengan seorang alumni FEUI 95 yang sedang kerja di PWC Belanda berujung pada kumpul angkatan di
Ketika melanjutkan studi ke Itali terpikir bahwa ini adalah akhir dari solidaritas FEUI karena tidak banyak orang
Di autobiografinya, Pak Mitro yang lulusan Belanda menulis bahwa sebagai dekan beliau pertama mencoba mencari dana untuk mengirim staf pengajar FEUI ke Eropa tapi responnya negatif sehingga peluang dari USAID/Ford Foundation untuk ke studi Amerika yang ditindak lanjuti. Mudah-mudahan Pak Sumitro tersenyum dari balik awan karena keinginan beliau tercapai dan sebagian besar ingin kembali jadi staf pengajar FEUI setelah selesai studi.
Ups! Musti berhenti nulis nich, takut terlambat bertemu Irwin’ 97. Kita mau tahun baruan bareng para mahasiswa
Solidarity forever (3x)
With the union makes us strong
Penulis adalah alumni FEUI jurusan ESP angkatan 1995 dan program M.Sc Economics di Free University